NGANTOR DI ERA MILENIAL

Dunia berlalu dengan dinamika sesuai masanya. Di era serba cepat orang telah terfasilitasi oleh internet dalam banyak aktivitasnya, salah satunya bekerja yang tak lagi harus dilakukan di kantor saja. Rumah, kafe, mal, taman, perpustakaan hingga ruang pribadi pun bisa menjadi sumber inspirasi solusi kerja manusia

Zaman berkembang menuntut penyesuaian, dan memberikan pengaruh luar biasa pada gaya hidup manusia, termasuk kaum milenials. Tidak cuma kebiasaan-kebiasaan baru yang bermunculan, tapi juga gaya hidup baru di dunia pekerjaan. Salah satu fenomena yang kini sedang ngetrend adalah merebaknya kaum milenial yang menyukai waktu kerja fleksibel. Tak bisa dipungkiri sekarang banyak jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan secara remote tanpa harus pergi ke kantor namun  tetap bisa produktif.

Salah satunya dilakukan oleh Ory Handayani, mantan pegawai muda bank sentral yang memutuskan untuk tak lagi ngantor di gedung megah Bank Indonesia. Ory memilih menjadi bos untuk dirinya sendiri dengan berbisnis dari dapur rumahnya. Ya, Ory menyukai kuliner, dan sangat peduli pada kuliner alami serta sehat. Ketika bumbu masakan di restoran umumnya menggunakan penyedap tambahan atau sintetis, Ory mulai merasa tidak nyaman. Apalagi saat ini kesehatan orang sangat tergantung dari apa yang dia makan. Alhasil, Ory mencoba memasak makanan tanpa penyedap dan pengawet berbahan dasar sayuran, namanya Garo-gado Siram. Menu masakannya bahkan tidak menggunakan minyak goreng. Anak-anaknya pun suka. “Dan kini saya tetap bisa berkarya, meluapkan hobi memasak, mengontrol makanan buah hati, memiliki banyak waktu dengan keluarga serta tetap bisa menjual produk melalui kemudahan dunia komunikasi masa kini yang bernama media sosial. Oh ya, karena masakan saya tanpa pengawet, dibuat medadak, pesan sehari sebelumnya jika berminat ya, bisa cek di instagram kok hehehe,” ujarnya sembari berpromosi.

Hal serupa juga menjadi langkah seorang wanita muda bernama Niken Hapsari yang memilih menjadi pekerja freelance di rumah123.com. Niken demikian disapa, menyadari jika bekerja mandiri freelance membutuhkan keyakinan diri lebih dibandingkan menjadi karyawan. “Tentu saja, karena jika bekerja sebagai karyawan, seseorang akan merasa lebih pasti dalam hal penghasilan. Dan setiap bulan menanti tanggal gajian. Sedangkan freelance seperti saya, dibayar per pekerjaan yang saya tunaikan sesuai pesanan sudah di-delivery. Ada tantangan tersendiri, jika saya menerima lebih banyak “pesanan” pekerjaan, maka penghasilan saya lebih banyak, jika enggan menerima banyak, ya dapat secukupnya. Kelebihan freelancer seperti saya, jika dikerjar deadline pada saat weekend, saya punya pilihan mengerjakan pekerjaan pada saat staycation,” ungkapnya.

Weekend memang normalnya dimanfaatkan waktu untuk bersantai. Tapi, kerja di akhir pekan juga bukan hal yang asing lagi bagi kaum milenials, sebagaimana halnya Niken maupun Ory. Terutama mereka yang sedang dikejar deadline penting. But, jika suatu ketika Anda sedang berlibur tetapi deadline menanti, tidak perlu lagi risau atau galau, sambil menikmati fasilitas hotel yang ada kerja pun bisa terasa lebih menyenangkan. Wi-fi sudah banyak didapati di kafe dan beberapa spot nongkrong anak muda. So, kalau suasana saat bekerja terasa lebih nyaman, dijamin ide buat menyelesaikan pekerjaan pasti akan lebih lancar.

Oh ya, di kala kopi demikian trendy, maka tempat nongkrong ngopi adalah solusi bekerja di luar kantor jika bosan pula hanya duduk di serambi rumah atau di kamar saja. Salah satunya yang dilakukan oleh Abraham Adhie, anak muda yang baru lulus dari Universitas swasta di Jakarta yang mulai menekuni bidang teknologi dan bisnis fintech atau Financial Technology. “Kerjaan saya itu ya macam melengkapi dan mematangkan fitur-fitur startup yang sedang dikembangkan oleh perusahaan atau pun perorangan. Saya bisa mengerjakan di basecamp kami ngumpul, karena saya dan beberapa anak muda seusia saya berada di bawah sebuah bendera perusahaan. Namun pimpinan perusahaan tidak melarang tim-nya tidak datang ke kantor atau base camp, asal deadline dan pekerjaan terpenuhi. Jadi, saya biasanya mengerjakan di café seperti ini,” ujarnya saat ditemui di Crematology Café di Jalan Suryo No. 25 Kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Menurut Abi, demikian dirinya biasa dipanggil, wi-fi di café umumnya kencang dan free bagi tamunya. Jadilah, café sebagai solusi menyelesaikan pekerjaannya. Namun demikian, generasi muda seperti Abi juga harus ingat kesehatan. Pasalnya, saat pekerjaan sudah tidak mengenal “hari baik” untuk deadline karena setiap hari adalah deadline, maka waspadai potensi stres meningkat.

Nah, maka dari itu bekerja sambil traveling bisa menjadi pilihan yang tepat bagi Anda. Kerja pagi pulang malam sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang membuat penat, lalu saat level stres mulai meningkat, kerja sambil traveling juga menjadi tren kaum milenials. Sambil menikmati keindahan destinasi wisata yang dituju, kadangkala mampu memicu inspirasi baru yang membuat semangat kerja kembali menggebu. Apalagi dengan traveling juga membawa manfaat untuk refresh pikiran sehingga anda bisa lebih produktif lagi.

Yap, gaya bekerja kamu milenial memang semakin fleksibel, tanpa harus pergi ke kantor setiap hari tetapi tetap bisa produktif. Tapi tentu saja, gaya kerja seperti ini harus mendapat persetujuan dari pihak kantor tempat bekerja, dan lazimnya adalah industry kreatif yang melakukannya. Untuk pegawai di sektor layanan masyarakat seperti halnya milik pemerintah, gaya ngantor seperti kaum milenials saat ini belum bisa dilakukan.

 

BECIKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *