ITANG YUNASZ: DESAINER SEMUA KALANGAN

Karya-karya Itang YUnasz

“Dulu busana muslim dianggap kampungan. Tapi, sekarang sudah dijadikan tema sendiri saat pergelaran busana. Orang-orang mulai sadar bahwa busana muslim mendatangkan banyak uang, pasarnya besar.”
Itang Yunasz


Tahukah kamu, jika Renato Balestra adalah seorang perancang busana ternama asal Italia yang telah mendandani begitu banyak klien ternama di seluruh dunia, mulai dari anggota keluarga kerajaan hingga selebriti papan atas. Ternyata, rumah Mode Balestra menjadi tempat magang salah seorang desainer Indonesia. Ia adalah Itang Yunasz.

Album Lagu Itang Yunasz

Sedangkan didunia tarik suara Itang Yunasz pernah populer dengan lagu berjudul “Aku Cinta Padamu”. Ia juga pernah dikontrak beberapa tahun oleh Pangeran Brunai untuk menjadi singer di Brunai Darussalam. Sejak namanya makin dikenal oleh pencinta musik tanah air. Ia pernah mencoba peruntungan di dunia hiburan sebagai bintang film dan iklan, bahkan ia sempat menelurkan empat album lagu yang lumayan laris.

Kini, Itang dikenal sebagai perancang busana Muslim. Ia telah memiliki beberapa label busana, yaitu Itang Yunasz (lini utama), Tatum (busana kerja), Marrakech (busana muslim untuk anak muda), Preview (busana muslim pria), dan Kamilaa (busana muslim wanita). Lalu, bagaimana cerita perjalanan Itang sebagai desainer ?

Itang Yunasz Muda

PROFIL ITANG YUNASZ

Itang Yunasz yang bernama lengkap Yusjirwan dilahirkan di Jakarta pada tanggal 31 Desember 1958, dari pasangan asal Minangkabau. Selain sebagai seorang perancang busana muslim terkenal tanah air, Itang Yunasz juga adalah seorang penyanyi dan aktor. Ayahnya yang bernama Yunas Sultan Pangeran merupakan seorang prajurit TNI namun punya bakat seni antara lain membuat lukisan dari kain perca, sementara ibunya yakni Yuliana sangat gemar menjahit. Itang Yunasz menikah dengan Yeni Mulyani dan mereka dikaruniai seorang anak laki – laki dan seorang anak perempuan.

Renato Balestra, Guru Itang YUnasz
Renato Balestra, Guru Itang YUnasz

Diusia 10 tahun, Itang Yunasz memang suka mendesain berbagai sketsa. Ia bahkan pernah mencoba ikut Lomba Perancang Mode yang digelar oleh Majalah Femina ditahun 1979, namun tidak mampu meraih peringkat apapun. Suatu ketika, Itang Yunasz berangkat ke Singapura untuk menyaksikan pagelaran busana milik desainer asal Italia yaitu Renato Balestra. Iapun bertekad menemui sang desainer tersebut untuk berguru. Bak gayung bersambut, Balestra kemudian menyarankan Itang Yunasz untuk belajar menjadi desainer dan sekaligus magang di Roma – Italia.

Itang Yunasz kemudian terbang ke Roma pada tahun 1980 untuk bertemu dan belajar dirumah mode milik Renato Balestra.  Tahun 1981, Itang Yunasz kembali ke tanah air. Ia pun mencoba kemampuannya dengan mengikuti Lomba Perancang Mode. Kali ini rancangannya bergaya internasional dengan memadukan busana khas Srilanka, Thailand, Jepang, dan Sumatera, yang diberi tema “Angin Timur Angin Barat”. Pada perlombaan ini ia berhasil menyabet juara dua sehingga memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp. 2 juta, sementara baju rancangan yang diikutkan dalam perlombaan tersebut ternyata diminati oleh seorang konsumen asal Houston – Texas, senilai Rp. 4 juta.

Butik Itang Yunasz

Dari sinilah Itang Yunasz mulai merintis usahanya bermodalkan uang sejumlah Rp. 6 juta tadi. Pada tahun 1991, Itang Yunasz memutuskan untuk kembali lebih serius menggeluti bisnis merancang busana, setelah sebelumnya beralih ke dunia tarik suara, sehingga sempat kurang fokus di dunia fesyen. Sejak saat itu iapun sering menjuarai ajang perlombaan merancang busana, dan selalu terpilih sebagai Perancang Busana Indonesia Terbaik.

 KONSISTEN MEMILIH BUSANA BUSLIM

Dalam perjalanan karirnya, Itang Yunasz lebih memilih merancang busana muslim gaya moderen, sebab menurutnya busana muslim model lama yang dirancang oleh desainer pendahulu terlalu menampilkan lembaran kain yang berlapis – lapis sehingga terkesan menumpuk dan gedombrongan.

Ia memperhatikan wanita berhijab yang bekerja di perkantoran seperti di bank, namun kebanyakan mereka belum mengetahui jenis blazer yang sesuai dengan lingkungan tempat mereka bekerja. Itang Yunasz kemudian memproduksi rancangan busana muslimah dengan memakai label “Tatum” untuk produk pertamanya yang diedarkan kepasaran. Diteruskan dengan merek “Preview” untuk produksi baju koko. Ide rancangan baju koko ini muncul saat Itang Yunasz memperhatikan penampilan Almarhum Ustad Jeffry Al Bukhori (Uje) yang sering tampil didepan publik.

Label Preview
Label Preview

Selanjutnya, Itang Yunasz memproduksi merek “Marrakech” berupa busana muslim gaul dari bahan kaos bagi kalangan anak muda. Label Marrakech sendiri merupakan ubahan dari kata Maroko yaitu negara wisata yang terletak di Benua Afrika namun sangat berkesan bagi Itang Yunasz saat ia berkunjung kesana. Ketika Itang Yunasz mendapat undangan di Jeddah – Saudi Arabia untuk menampilkan berbagai rancangan busana muslim hasil karyanya, saat itu pulah ia menunaikan ibadah umroh pertamanya. Setelah usianya menginjak 30 tahun, ia memutuskan untuk melakukan Ibadah Haji untuk pertama kalinya.

Penghargaan untuk Itang Yunasz

Atas jasanya memajukan industri mode Indonesia, Itang pun dianugerahi Pia Alisjahbana Award 2012. Pia Alisjahbana Award merupakan sebuah penghargaan lima tahunan bagi individu dan institusi yang bergerak di industri mode tanah air.

Pia Alisjahbana adalah pelopor dan penggerak industri mode sejak era 70-an melalui kegiatan lomba-lomba perancang mode yang mengikutsertakan para talenta muda, mengedukasi selera mode masyarakat melalui media, dan mendorong berdirinya berbagai asosiasi mode di Indonesia.

Itang Yunasz Foto: Tempo.co

Itang dinilai berhak mendapatkan penghargaan itu karena telah menjadi penggerak perubahan dan role model di industri mode Tanah Air. Selain itu ia juga ikut memberi pengaruh besar dan signifikan, mencakup selera konsumen, membuka pasar, memberdayakan dan memajukan perajin lokal, inovasi desain dan telah diakui reputasinya secara nasional atau internasional.

Itang unggul dalam aspek pengembangan produk, khususnya busana muslim, inovasi bisnis model dan diversifikasi pasar, melakukan edukasi selera publik dan menjadi sosok inspiratif bagi desainer muda.

Karya-karyanya telah menembus pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, Mesir dan Dubai. Karyanya juga sudah pernah dipamerkan di Monaco, London, Paris dan, belum lama ini, San Fransisco.

Kritikan ‘pedas’ dari mendiang Iwan Tirta, desainer senior yang ketika itu bertindak sebagai juri Lomba Perancang Mode (LPM) 1981 yang terus terngiang-ngiang di telinga, membuat Itang Yunasz (59) termotivasi untuk menciptakan pakaian siap pakai (ready to wear).

Tatum Itang Yunasz
Tatum Itang Yunasz

Itang juga membuktikan bahwa ia tidak setengah-setengah dalam menjalani kiprahnya sebagai perancang busana. Dengan keyakinan yang tinggi, hanya dua bulan setelah LPM 1981, ia berani menggelar peragaan busana siap pakainya yang pertama. Dengan melibatkan sekitar 35 model, dengan koreografer Rudy Wowor, Itang menampilkan karya-karyanya yang bertemakan Chinese Look.

BUSANA UNTUK SEMUA KALANGAN

Lewat karya-karyanya, Itang menampilkan sosok wanita mandiri. Ada kesan maskulin, tapi tidak mengurangi unsur femininitas dan keseksiannya. Tentang konsep rancangan, ia lebih suka menyebutnya urban etnik.

Meskipun konsep urban etnik menjadi panutan, bukan berarti perancang yang lebih memilih Italia sebagai kiblat mode ketimbang Perancis ini, lalu anti menerima pengaruh lain. Karena menurut Itang, dalam merancang ia harus pula mengetahui keinginan pasar. “Jadi pengaruh-pengaruh lain yang sedang trend, bisa juga saya ambil,” katanya.

Di tahun 90-an, Itang sempat berkonsentrasi membuat uniform dan mengurangi pesanan perorangan, kecuali benar-benar mahal harganya. Ia mengerjakan seragam hotel berbintang, diantaranya hotel Hyatt Yogyakarta dan Sanur Bali. Sedangkan untuk bank, ia pernah mengerjakan seragam American Express, Media Bank, dan Bank Pasific. Ciri khas rancangannya tetap melekat di setiap seragam yang ia ciptakan.

Dalam menciptakan seragam, Itang bahkan pernah belajar di sekolah mode Esmod, khusus mempelajari pembuatan pola. Tahun terus berganti, Itang tidak pernah berhenti untuk berinovasi, di tahun 2000 ia mulai mendesain aneka busana muslim. Busana yang menurutnya kala itu lumayan sulit karena ada pakem yang mesti diikuti.

Koleksi Busana Pria Itang Yunasz
Koleksi Busana Pria Itang Yunasz

Dulu busana muslim dianggap kampungan. Tapi, sekarang sudah dijadikan tema sendiri saat pergelaran busana. Orang-orang mulai sadar bahwa busana muslim mendatangkan banyak uang, pasarnya besar.

Busana muslim yang ia ciptakan, desainnya longgar dan hijab yang simpel. Ia juga kerap mengeluarkan koleksi busana yang kaya motif dan menggunakan tenun asli Nusantara. Itang mengakui bahwa kemajemukan Indonesia yang begitu kaya membuat desainer Indonesia dapat lebih kreatif dalam mengeluarkan tren baru.

Kameela by Itang YUnasz

Masing-masing label yang Itang miliki memiliki fokusnya sendiri. First line Itang Yunasz memiliki karakter yang romantic dan delicate. Untuk Kamilaa yang diutamakan adalah bagaimana harga yang terjangkau dapat memberikan kenyamanan dengan tema-tema keindonesiaan, seperti motif-motif tenun tradisional. Label Preview memproduksi busana pria yang lebih fashionable dan affordable. Tatum adalah label busana kerja.

Atas kiprahnya yang besar di dunia mode Tanah Air, Sebagai bentuk apresiasi atas kiprah Itang yang telah turut serta membentuk wajah fahion Tanah Air selama 32 tahun, pada awal September 2016 lalu digelar sebuah acara bertajuk Kenal Lebih Dekat. Dalam acara itu, Itang mempresentasikan sejumlah line-up dari koleksi musim panas 2017 yang diberi nama Java Sumatra.

Fashion Show Itang di Rusia
Fashion Show Itang di Rusia

Itang pun pernah menampilkan karyanya pada ajang Collection Premiere Moscow, Rusia pada 31 Agustus – 3 September 2016 lalu, koleksi kala itu terinspirasi oleh seni dekoratif dari Jawa dan Sumatra. motif Tapis Lampung yang menawan diangkat Itang pada koleksi modest wear yang mengambil rupa gaun, jaket, rok, dan palazzo pants bertema bohemian.

DARI BUTIK MEWAH HINGGA PASAR TANAH ABANG

Kenaikan level fesyen busana muslim tak lepas dari peran serta Itang Yunasz. Itang ‘berhasil’ membuktikan bahwa ia adalah desainer milik semua orang. Seorang Itang punya ambisi tidak hanya ingin mendesain pakaian untuk kelas atas. Meski karya-karyanya selalu tampil di runway dan diminati masyarakat kelas atas, ia juga mendesain untuk kalangan menengah ke bawah. Melalui label Kamilaa, Itang mendesain busana yang kemudian dijual di Tanah Abang.

Fashion Show di Tanah Abang
Fashion Show di Tanah Abang

Gebrakannya ini tentu mengagetkan. Tak jarang ada saja orang yang mencibir ‘keberanianmnya ini’. Bagaimana tidak, seorang desainer terkenal Indonesia mau melirik pangsa pasar Tanah Abang dan bukan hanya butik mewah di mal premium Jakarta. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat beberapa desainer lainnya untuk membuka toko di salah satu lot pasar Tanah Abang.

Peragaan Busana Di Tanah Abang
Peragaan Busana Di Tanah Abang

Selain berjualan di pasar Tanah Abang, Itang pun tak ragu untuk membuat sebuah pagelaran fesyen di tempat tersebut. Itang menunjukkan, bahwa sebenarnya kualitas busana tak bisa dilihat setengah-setengah. Artinya, sekalipun busana tersebut dijual dalam harga murah dan tempat yang panas seperti pasar Tanah Abang, ia juga tetap memerhatikan kualitas busana dan menciptakan busana yang sesuai tren.

Busana muslim yang dijualnya di Tanah Abang ini memiliki kisaran harga Rp 175 ribu sampai Rp 300 ribu. Meski harga jualnya jauh lebih murah dibanding di butik-butik lain, namun ternyata para pembelinya tak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah saja. Beberapa pembelinya justru berasa dari luar negeri, dan mereka rela menembus panas dan lorong pasar Tanah Abang untuk mendapatkan koleksi Itang. Dalam perjalanannya, ia justru merasa bahwa segmen pasar inilah yang membuat kariernya melesat dan omsetnya meningkat.

BECIKA

 

Rp189.000
-49%
Rp1.017.798 Rp519.081
-49%
Rp996.423 Rp508.105
-30%
Rp584.942 Rp409.459
-40%
Rp461.021 Rp276.728
-40%
Rp605.595 Rp363.386
Rp276.728
-49%
Rp996.423 Rp508.105

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *